Seorang bapak menyuruh anaknya sholat setiap hari
layaknya kewajiban bapak membimbing anaknya untuk sholat. Bapak tersebut
memberikan contoh kepada anaknya dengan melaksanakan sholat setiap hari, tepat
waktu dan terlihat sangat khusyuk. Maka dahi yang merasa penuh dengan
tanggungjawab membimbing itu tampak bersujud menghadap Tuhannya. Maka
terinspirasilah seorang anak tersebut oleh bapaknya yang terlihat sholeh itu.
Hari demi hari sang anak pun akhirnya dapat melanjutkan wasiat bapaknya untuk
sholat tepat waktu. Betapa bahagia hati bapak tersebut mengetahui anaknya telah
mengikuti apa yang telah dia perintahkan. Akhirnya sang bapak pun tidak perlu
lagi memberikan contoh kepada anak tersebut. Tak perlu lagi sholat tepat waktu,
tak perlu lagi terlihat khusuk. Lalu kemanakah hati sang bapak itu bersujud?
Kepada tanggungjawabnya kepada anaknya ataukah kepada Tuhannya?
Seorang anak melaksanakan sholat setiap hari layaknya kewajiban anak mematuhi perintah bapaknya.
Seakan dia amat risau dengan apa yang dia dapat apabila melanggar perintah
bapaknya. Maka dahi yang penuh dengan kerendahan hati dan rasa patuh itu tampak
bersujud menghadap Tuhannya. Sang anak menyaksikan kebahagiaan bapaknya atas
anaknya yang terlihat sholeh. Hingga akhirnya anak tersebut harus menjalani
hidupnya sendiri tanpa bimbingan bapaknya. Tak ada kerisauan lagi dalam
hatinya, tak ada lagi yang menghalangi kehendaknya. Tak ada lagi yang harus dia
patuhi. Maka hilanglah sholat yang terlihat khusyuk serta pribadi yang terlihat
sholeh itu. Lalu kemanakah hati sang anak itu bersujud? Kepada perintah
bapaknya ataukah kepada perintah Tuhannya?
Guru agama memberi pelajaran tata cara sholat disekolah
sebagai mata pelajaran agama dalam kurikulum sekolah. Maka ditunjukkanlah
bagaimana tata cara sholat yang benar dan sesuai dengan Sunnahnya. Betapa
terlihat sempurna prosedur sholat yang dicontohkan oleh guru tersebut dalam
kesehariannya disekolah supaya para siswanya dapat mengetahui tata cara sholat
yang benar dan sesuai dengan Sunnahnya. Begitu besar harapan guru tersebut
kepada siswanya hingga dia sangat teliti dalam setiap gerakannya. Namun harapan
itu terlalu besar hingga melampaui harapannya kepada Tuhannya. Dengan gerakan
yang sempurna dan sujud yang khusyuk tersebut, kemana hati sang guru itu
bersujud? Kepada harapan siswanya atau pengharapan tulus kepada Tuhannya?
Seorang anak bersekolah dan mendapat pelajaran tata cara
sholat sebagai syarat kelulusannya. Maka tampak bersujud dahi yang penuh dengan
ambisi besar dalam prestasi itu kepada Tuhannya. Setiap tahapan telah dia lalui
sebagai perjuangan atas kelulusannya. Maka luluslah siswa dengan sholat yang
terlihat khusyuk itu dengan predikat siswa yang terlihat sholeh dalam agamanya.
Lunas sudah tugasnya sebagai siswa yang terlihat sholeh. Tak ada lagi yang
perlu dia risaukan atas nilai agamanya di sekolah. Tak ada lagi anak yang
terlihat sholeh serta sholatnya yang terlihat khusyuk itu. Lalu kemanakah hati
sang siswa itu bersujud? Kepada nilai sekolahnya ataukah kepada Tuhannya?
Seorang yang terpuruk dalam kesusahan memohon pertolongan
kepada Tuhannya. Hatinya seperti
beranggapan tak ada lagi yang mampu menolongnya keluar dari masalah tersebut kecuali
Tuhannya. Maka tampak bersujud dahi yang penuh dengan rasa ketidakberdayaan itu
kepada Tuhannya. Tuhan yang Maha pemurah lagi Maha penyayang menolong hamba
tersebut keluar dari masalahnya. Bergembiralah hati seseorang tersebut atas
masalahnya yang telah usai. Tak ada lagi yang perlu dia risaukan. Tak ada lagi
rasa tidak berdaya dalam hatinya. Maka kemanakah hati seseorang tersebut
bersujud? Kepada masalahnya ataukah kepada Tuhanya?
Salahkah bapak yang menjadi contoh anaknya? Salahkah anak
yang patuh kepada bapaknya? Salahkah guru yang memberikan pengajaran kepada
siswanya? Salahkah kah siswa yang melaksanakan apa yang dia pelajari? Atau,
salahkah seseorang yang meminta perotolongan kepada Tuhannya? Sekali-kali
tidak. Mereka hanya kurang mengerti bahwa agama Islam adalah agama hati. Setiap
perbuatan akan bergantung pada maksud, tujuan, niat dalam hati setiap hamba
yang setelah itu diiringi dengan Sunnah yang telah diajarkan Rasul dan
dilanjutkan oleh orang tua dan guru sebagai pendidik. Akankah hati kita
berserah diri kepada Allah sebagai Tuhan? Mari kita tengok kelubuk hati kita
yang paling dalam. Mari kita bersihkan noda-noda dunia yang menghalangi sujud
kita kepada Allah yang Maha kuasa.
Komentar
Posting Komentar