Langsung ke konten utama

Apa Maksud Sujud-mu itu?



Seorang bapak menyuruh anaknya sholat setiap hari layaknya kewajiban bapak membimbing anaknya untuk sholat. Bapak tersebut memberikan contoh kepada anaknya dengan melaksanakan sholat setiap hari, tepat waktu dan terlihat sangat khusyuk. Maka dahi yang merasa penuh dengan tanggungjawab membimbing itu tampak bersujud menghadap Tuhannya. Maka terinspirasilah seorang anak tersebut oleh bapaknya yang terlihat sholeh itu. Hari demi hari sang anak pun akhirnya dapat melanjutkan wasiat bapaknya untuk sholat tepat waktu. Betapa bahagia hati bapak tersebut mengetahui anaknya telah mengikuti apa yang telah dia perintahkan. Akhirnya sang bapak pun tidak perlu lagi memberikan contoh kepada anak tersebut. Tak perlu lagi sholat tepat waktu, tak perlu lagi terlihat khusuk. Lalu kemanakah hati sang bapak itu bersujud? Kepada tanggungjawabnya kepada anaknya ataukah kepada Tuhannya?
Seorang anak melaksanakan sholat setiap hari layaknya  kewajiban anak mematuhi perintah bapaknya. Seakan dia amat risau dengan apa yang dia dapat apabila melanggar perintah bapaknya. Maka dahi yang penuh dengan kerendahan hati dan rasa patuh itu tampak bersujud menghadap Tuhannya. Sang anak menyaksikan kebahagiaan bapaknya atas anaknya yang terlihat sholeh. Hingga akhirnya anak tersebut harus menjalani hidupnya sendiri tanpa bimbingan bapaknya. Tak ada kerisauan lagi dalam hatinya, tak ada lagi yang menghalangi kehendaknya. Tak ada lagi yang harus dia patuhi. Maka hilanglah sholat yang terlihat khusyuk serta pribadi yang terlihat sholeh itu. Lalu kemanakah hati sang anak itu bersujud? Kepada perintah bapaknya ataukah kepada perintah Tuhannya?
Guru agama memberi pelajaran tata cara sholat disekolah sebagai mata pelajaran agama dalam kurikulum sekolah. Maka ditunjukkanlah bagaimana tata cara sholat yang benar dan sesuai dengan Sunnahnya. Betapa terlihat sempurna prosedur sholat yang dicontohkan oleh guru tersebut dalam kesehariannya disekolah supaya para siswanya dapat mengetahui tata cara sholat yang benar dan sesuai dengan Sunnahnya. Begitu besar harapan guru tersebut kepada siswanya hingga dia sangat teliti dalam setiap gerakannya. Namun harapan itu terlalu besar hingga melampaui harapannya kepada Tuhannya. Dengan gerakan yang sempurna dan sujud yang khusyuk tersebut, kemana hati sang guru itu bersujud? Kepada harapan siswanya atau pengharapan tulus kepada Tuhannya?
Seorang anak bersekolah dan mendapat pelajaran tata cara sholat sebagai syarat kelulusannya. Maka tampak bersujud dahi yang penuh dengan ambisi besar dalam prestasi itu kepada Tuhannya. Setiap tahapan telah dia lalui sebagai perjuangan atas kelulusannya. Maka luluslah siswa dengan sholat yang terlihat khusyuk itu dengan predikat siswa yang terlihat sholeh dalam agamanya. Lunas sudah tugasnya sebagai siswa yang terlihat sholeh. Tak ada lagi yang perlu dia risaukan atas nilai agamanya di sekolah. Tak ada lagi anak yang terlihat sholeh serta sholatnya yang terlihat khusyuk itu. Lalu kemanakah hati sang siswa itu bersujud? Kepada nilai sekolahnya ataukah kepada Tuhannya?
Seorang yang terpuruk dalam kesusahan memohon pertolongan kepada Tuhannya. Hatinya  seperti beranggapan tak ada lagi yang mampu menolongnya keluar dari masalah tersebut kecuali Tuhannya. Maka tampak bersujud dahi yang penuh dengan rasa ketidakberdayaan itu kepada Tuhannya. Tuhan yang Maha pemurah lagi Maha penyayang menolong hamba tersebut keluar dari masalahnya. Bergembiralah hati seseorang tersebut atas masalahnya yang telah usai. Tak ada lagi yang perlu dia risaukan. Tak ada lagi rasa tidak berdaya dalam hatinya. Maka kemanakah hati seseorang tersebut bersujud? Kepada masalahnya ataukah kepada Tuhanya?
Salahkah bapak yang menjadi contoh anaknya? Salahkah anak yang patuh kepada bapaknya? Salahkah guru yang memberikan pengajaran kepada siswanya? Salahkah kah siswa yang melaksanakan apa yang dia pelajari? Atau, salahkah seseorang yang meminta perotolongan kepada Tuhannya? Sekali-kali tidak. Mereka hanya kurang mengerti bahwa agama Islam adalah agama hati. Setiap perbuatan akan bergantung pada maksud, tujuan, niat dalam hati setiap hamba yang setelah itu diiringi dengan Sunnah yang telah diajarkan Rasul dan dilanjutkan oleh orang tua dan guru sebagai pendidik. Akankah hati kita berserah diri kepada Allah sebagai Tuhan? Mari kita tengok kelubuk hati kita yang paling dalam. Mari kita bersihkan noda-noda dunia yang menghalangi sujud kita kepada Allah yang Maha kuasa.

Komentar